Bandar Lampung – Tradisi Lempar Selendang menjadi bagian dari pembelajaran budaya Lampung di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL).
Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Adab UIN RIL mempraktikkan tradisi adat Lempar Selendang dalam Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Islam dan Kebudayaan Lampung, Rabu (4/11/2026), di lingkungan kampus UIN RIL.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa kelas Sejarah Peradaban Islam (SPI) dan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam ini merupakan praktik eksplorasi seni dan sastra adat.
Lempar Selendang, yang dikenal pula dengan tradisi Ningkok, merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Lampung Pesisir (Saibatin), berupa permainan adat yang melibatkan muli mekhanai (pemuda dan pemudi) sebagai sarana perkenalan, mempererat silaturahmi, dan membangun interaksi sosial antargenerasi muda.
Tradisi ini secara mendalam mencerminkan pola interaksi sosial, tata komunikasi yang santun, serta berfungsi sebagai media penyampaian pesan keadatan maupun ajaran moral universal.
Melalui pelaksanaan praktik ini, mahasiswa mengeksplorasi secara utuh nilai estetika, tatanan filosofi luhur, dan keluhuran budi pekerti yang terkandung dalam setiap gerak ritmis serta tahapan sakral prosesi tersebut.
Dosen pengampu, Ratna Dewi, M.Pd., menjelaskan, UTS praktik tidak sekadar menjadi sarana penilaian akademik, tetapi juga bentuk penerapan materi yang telah dipelajari di kelas. Mahasiswa diberi kesempatan untuk mengenal dan memahami kebudayaan Lampung melalui pengalaman langsung.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kecintaan dan apresiasi kita terhadap kekayaan budaya Lampung. Nilai-nilai kecintaan terhadap kebudayaan inilah yang selalu ingin saya tularkan kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran,” ujarnya.
Dekan Fakultas Adab, Dr. Muhammad Afif Amrullah, M.Pd.I., mengapresiasi dosen pengampu dan mahasiswa yang telah menyelenggarakan praktik tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wujud pembelajaran yang berakar pada kearifan lokal sekaligus upaya menjaga warisan budaya Lampung.
Ia juga mengapresiasi rangkaian kegiatan yang diawali dengan pelantunan Wawancan dan Sagata. Kedua seni sastra tersebut memperkenalkan kekayaan tradisi lisan Lampung, khususnya nilai dan estetika syair Sagata.
Kegiatan ini turut dihadiri para Wakil Dekan, kabag serta Ketua dan Sekretaris Program Studi di lingkungan Fakultas Adab. (Rls)











